Metamorfosa ku, di tanah 'Nyiur Melambai'.
Rabu, Agustus 06, 2014Hidup selama 15 tahun di kota ini, membuat ku lupa akan kampung halaman. Ya, tahun ini genap sudah ke 15 tahun di tanah yang berikon nyiur melamabai ini. Aku bertempat tinggal, makan, minum, bersekolah, bahkan kini aku pun telah merasakan bagaimana mencari uang ku sendiri di tanah ini. Aku lahir di Jakarta tahun 1996, kota yang menjadi pusat segala kegiatan di indonesia. Kota yang dikenal dunia selain Bali, jika bicara tentang Indonesia. Sanak saudara, kerabat, keluarga besar ku di pulau itu.
Tahun
1999 aku bermigrasi dari riuhnya Ibu Kota Jakarta ke senyapnya kota Manado.
Kota yang berada diujung pulau yang mirip bentuk huruf ‘K’ itu. Kala itu aku
hanya memiliki seorang adik laki-laki yang hanya berjenjang setahun degan ku. Dia
lebih seperti teman ketimbang sebagai adik. Dengan kapal laut yang kokoh itu,
membawa kami sekeluarga menginjakan kaki untuk pertama kalinya ke kota ini. Dan
sejak itu,,,,.... kami....,,, TIDAK PERNAH pulang kembali.
Dengan
berbekal beberapa lembar foto, aku berjuang untuk melawan lupa. Mempertahankan
memori yang bisa dipertahankan. Foto yang
berhasil kami bawa adalah foto nenek-kakek ku yang terlihat masih cukup muda,
foto diri ku dengan rok orange selutut ketika wisata di kebun Laguna, foto ibu ku di tempat kerjanya yang masih
terlihat sangat muda, foto keluarga ku yang beranggotakan 4 orang, ayah-ibu ku,
si kecil aku berdiri tidak sampai
setengah tinngi ayah ku, dan adik ku yang duduk di pangkuan ibu ku dan beberapa
foto yang kini aku tak ingat lagi. Karena sayangnya semua foto-foto itu telah
lenyap entah kemana. Aku pun menyesal.
Setelah
15 tahun berlalu, kini keluarga ku mampu hidup pas-pasan di tanah orang ini. Setidaknya
kami memiliki sebuah rumah sederhana yang kami huni sekarang ini. Ketika aku TK adik ke
dua ku lahir, dia seorang perempuan J.
Ketika aku beranjak ke kelas 4 SD adik ke tiga ku lahir, seorang perempuan juga
J. Kini anggota keluarga
ku berjumlah 6 orang. Dan peluang untuk kembali pulang semakin kecil, karena
biaya yang semakin banyak dan besar.
Kota
Manado tidak sesenyap dulu, sekarang sangat ramai, jalan Raya yang dulu hanya
beberapa kendaraan lewat, sekarang terasa sempit. Gedung-gedung pencakar langit
semakin banyak dibangun, perumahan semakin banyak, hutan dan bukit-bukit tinggi
berganti menjadi banggunan, Pusat perbelanjaan semakin banyak dan ramai.
Semua
kenangan kini telah lenyap di kepala ku, bagaimana tidak, kala itu aku berumur kurang
dari 3 tahun ketika mengenal mereka. Hanya bayang-bayang kabur terbenak ketika
berusaha mengingat wajah mereka. Dan semakin berjalannya waktu aku tidak
mempedulikannya. Aku pikir tidak apa-apa tidak ingat, aku pikir tidak apa-apa tidak
kembali pulang. Toh, tidak ada yang bisa diingat dari mereka. Toh, aku tidak
punya kenangan apa pun tentang mereka.
Tapi
aku sebenarnya aku ingat pernah merindukan mereka, berkata pada ibu dan ayah ku
bahwa aku ingin pulang, aku ingin bertemu mereka, karena kala itu ingatan ku masihk fresh
tentang mereka. Kala itu aku pernah
meminta pulang saat aku TK, ayah ku berkata bahwa nanti aku lulus TK maka kita
akan pulang. Kemudian saat aku kelas 2 SD kami belum pulang juga, ayah ku
berkata, kami akan pulang ketika aku lulus SD, ketika aku lulus SD ayah ku
berkata lagi bahwa kita akan pulang ketika aku lulus SMP dan bersekolah SMA di
sana. Tapi nyataya tidak juga, sampai aku berhenti meminta dan bertanya ‘kapan
pulang?’. Aku tidak peduli lagi. Bahkan sekarang kalau ditanya aku orang asli
mana? Aku berkata asli jawa lahir di Jakarta ( liat di akte kelahiran),,, ohh...
Jawa sebelah mana?,,,, gak tau tuh,,
Jawa Utara kalo gak salah,,,... aku
sangat fasih bahasa Manado di bandingkan Bahasa Jawa yang sama sekali aku ora
mudeng.. teng.. teng..
Tapi
aku sadar. Berbeda dengan aku, adik laki-laki ku, atau ayah ku, Ibu ku sangat
merindukan kampung halamannya. Karena di sana ada orang tuanya yang lelah
lanjut usia dan rentan. Aku pernah melihat ibu ku menangis saat dibacakan doa
yang sangat menyentuh oleh seorang ustad setelah sholat ID Fitri. Aku pun
menagis melihatnya. Aku sangat tau ia sangat merindukan orang tuanya. Dan ayah
ku pun membawa kabar gembira dari ucapannya,, tahun depan kami akan pulang. Tidak
seperti perkataan-perkataan yang sebelumnya, kali ini terlihat serius dan di
rencanakan.
Semoga saja hal itu benar-benar terjadi. Karena mungkin ini adalah pulang kampung halaman yang pertama dan yang terakhir kalinya, mungkin kesempatan bertemu kembali dengan nenek dan kakek ku serta sanak keluarga untuk yang pertama dan terakhir kalinya, sebab ini semua menghabiskan uang keluarga yang tidak sedikit. Semoga saja bukan yang terakhir. Dan kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan yang baik, aku ingin memulangkan orang tua ku setiap tahun, setiap lebaran, agar orang tuaku bisa bertemu orang tua mereka, nenek-kakek ku. Amin Ya Allah. J
Semoga saja hal itu benar-benar terjadi. Karena mungkin ini adalah pulang kampung halaman yang pertama dan yang terakhir kalinya, mungkin kesempatan bertemu kembali dengan nenek dan kakek ku serta sanak keluarga untuk yang pertama dan terakhir kalinya, sebab ini semua menghabiskan uang keluarga yang tidak sedikit. Semoga saja bukan yang terakhir. Dan kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan yang baik, aku ingin memulangkan orang tua ku setiap tahun, setiap lebaran, agar orang tuaku bisa bertemu orang tua mereka, nenek-kakek ku. Amin Ya Allah. J
Terimakasih
sudah menjadi pembaca tulisan ku J.


0 komentar