| Visit me on Facebook ^^ |
Yapp,, ini dia...
Para
readers tulisan ku,,, kali ini akan ku sajikan sejengkal cerita tentang hidup
ku. Sekarang ini aku adalah guru bagi beberapa anak yang menjadi murid ku di
salah satu lembaga kursus yang menamai dirinya LBI (Lembaga Bahasa Inggris) *resmi lohh!!. Yaa,, seperti namanya aku adalah seorang English Teacher.
LBI adalah Lembaga kursus bahasa inggris
yang telah berjasa memberikan aku ilmu sehingga bahasa inggris ku lebih dari
sekedar maju. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari peranan para guru ku yang
ku akui kemampuan mengajar yang hebat!. Kemampuan mengajar yang terlihat
kreatif dan inovatif serta mengerti dalam
mendidik pelajarnya membuat kita yang belajar tahu bagaimana belajar yang baik
dan benar, belajar yang sebenarnya.
Dan juga
syarat untuk lulus dari lembaga kursus itu adalah kita harus mampu mengajarkan
ilmu yang telah kita peroleh kepada adik tingkat di sana. Aku tidak keberatan
dengan syarat itu, lagi pula hanya dilakukan sekali. Namun aku ditawarkan untuk
menjadi tenaga pengajar untuk seterusnya selama aku mempunyai waktu luang. Tentu
saja aku terima. J Awalnya
aku memang lagi butuh tambahan uang saku untuk bantu-bantu keperluan kuliah aku
yang baru saja aku akan mulai. Dan dipikir lagi dengan ini aku dapat tetap
meningkatkan kemampuan bahasa inggris aku. Karena aku setuju dengan ucapan guru
aku bahwa “bahasa kalau tidak dipakai tak kan bisa fasih, lebih parah lagi alah
akan lupa”.
Jadilah aku mengajar untuk mereka,,, anak-anak pemula dalam belajar bahasa inggris.
Bukan main sulitnya menangani mereka semua... hari pertama mengajar ada yang bercanda terus,
ngajak ngobrol terus, berantem, lebih parahnya lagi sampai ada yang menangis. Guys,,,,
jangan pikir aku itu ngajar anak TK atau anak kelas 1 SD... benar mereka adalah
para siswa Sekoah Dasar,, tapi kalau dirata-ratakan adalah kelas 5 dan 6
ESDE,,,. Mereka sudah cukup bertumbuh untuk mengerti bagaimana tatakrama
belajar di kelas kan guys??,,, bikin pusing dehh...
Aku: “students,, kita sudah belajar tadi yaa... sekarang mem
akan tanya, what is the meaning of ‘boy’ ??..”
J: “saya tau ma’am, anak kandung laki-laki..”
M: “ ihh bukan,, salah kamu itu son, boy itu artinya cuma
anak laki-laki,, iya kan ma’am?? Masa itu saja gak bisa,, huuu... payah kamu...”
J: “ apa kamu bilang?? Payahh?? kamu yang payah kali.. enak saja ngatain orang
sembarangan.. kan kita semua lagi belajar, jadi gak apa-apa dong kalau Cuma salah
sedikit.. yang penting kan ada anak laki-lakinya,, bwee’.
M: ” ihh.. sudah salah
masih berlagak lagii.. dasar!!.”
(dan cecok lah mereka di dalam kelas tanpa menghiraukan guru
yang ada di depan mereka dan teman teman yang menegur mereka) dan peran ku
sebagai penengah mereka??
Aku: “ sudah,, sudah,, jangan berkelahi.. M benar jawabannya
adalah anak laki-laki. Tapi kalian berdua harus bersikap sopan ya di dalam
kelas. Now, say sorry to each other!” (dan bisa dibayanginlah
terusannya).
Setelah itu aku menyuruh mereka untuk membuat
soal latihan. Entah perkara itu salah siapa... Mungkin itu salah ku karena
mengajukan pertanyaan itu K
:[[ :’(
Dan
jeng ... jeng... cerita berlanjut..
Ada seorang
anak bernama A sedang menundukan kepalanya di atas meja. Ketika itu beberapa
murid sudah ku persilahkan pulang karena telah menyelesaikan soal latihan. Dan ternyata,,
guys,,, dia sedang menangis terharu
biru.. entah terharu karena melihat teman-temannya sudah beranjak pulang satu
per satu sedangkan dia belum atau terharu karena lembar jawaban di bukunya sangat bersih dari coretan pensil. Wahh.. wahh..
“kamu kenapa?,, “
“ma’am saya gak mengerti jawab soalnya...”
“lohh,, tadi pas di tanya katanya sudah mengerti...”
Memang
sedari tadi ini anak asik bercanda terus dan mengganggu teman-teman di
sekitarnya,, nahh loohh.. Dia memohon
kepada aku untuk menjadikan soal latihan itu sebagai PR. NO... NO... NO...
karena nanti itu akan menjadi kebiasaan dia. Akhirnya aku membantu dia untuk
menyelesaikan, walau pun jam mengajar sudah habis.
aku
baru mengerti seperti apa kesulitan guru-guru aku. Capeknya itu lohh.. dan lagi aku harus bertanggungawab atas nilai
mereka. Kalau sampai 50% lebih gagal dalam ulangan berarti itu adalah salah
ku.. malu lahh dicap guru gak becus mengajar..
Hal tersebutlah
yang membuat aku mengerti bagaimana menjadi guru yang baik dan bertanggungjawab
akan upah yang kita peroleh terhadap murid-muridnya. Apa bagusnya jika kita
dibayar dengan lancar jika kita tidak mampu mencerdaskan murid-murid kita. Menjadi
guru bukan hanya masuk kelas, memberi penjelasan tentang materi dan memberi
tugas, tapi kita juga harus yakin bahwa murid kita paham apa yang kita ajarkan.
Yahh begitulah kira-kira. ini menjadi kegembiraan tersendiri buat ku. mengajar adalah seni yang sangat indah,, Guru yang cakap mengajar dapat merasakan bahwa mengajar di
mana saja adalah suatu hal yang menggembirakan, yang membuatnya melupakan
kelelahan. *aku nih dah dewasa yah :D.
Terima
kasih kepada mereka yang memberiku kesempatan untuk merasakan pengalaman ini. To
: Ma’am Lanny.
Semangat
untuk guru-guru Indonesia !!




